Jumat, 09 Oktober 2015

Suku Dayak Indramayu

Apabila kita mendengar kata Suku Dayak pasti akan terlintas dalam benak kita kepada Suku Dayak yang menyebar di pulau Kalimantan dan sebagian kecil di pulau Sulawesi, namun di daerah losarang kabupaten Indramayu-Jawa Barat ada sebuah komunitas yang menamakan dirinya Suku Dayak Hindhu-Budha Bumi Segandu Indramayu.

Dayak Indramayu Pria
Suku Dayak Indramayu ini bukanlah merupakan bagian dari Suku Dayak yang ada di Kalimantan, karena asal muasal keberadaan komunitas ini adalah dari perkumpulan perguruan pencak silat yang bernama pencak silat serbaguna yang berdiri pada tahun 1970-an. Pada tahun 2003 Komunitas ini mulai berdiri yang diprakarsai oleh Takmad Diningrat setelah melalui perenungan-perenungan terhadap keadaan di sekitarnya, dengan tujuan untuk memperbaiki moral masyarakat. Takmad Diningrat yang merupakan ketua dari perguruan pencak silat serbaguna mengenalkan hasil perenungannya kepada orang-orang disekitarnya dan semakin lama anggotanya semakin banyak dan meluas.


Sedangkan arti Kata “suku”, berarti kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya masing-masing.

Kata “dayak” berasal dari kata “ayak” atau “ngayak”  yang artinya memilih atau menyaring. Makna kata dayak disini adalah menyaring, memilih mana yang baik dan yang salah.
Kata “hindu” artinya kandungan atau rahim. Filosofinya adalah bahwa setiap manusia diklahirkan dari kandungan Sang Ibu (perempuan).

Kata “budha” berasal dari kata “wuda” yang artinya telanjang. Makna filosofisnya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang.
Kata “bumi segandu” yaitu, “bumi” mengandung makna wujud, “segandu” mengandung makna sekujur badan. Gabungan kedua kata tersebut “bumi segandu” mempunyai makna filosofis yaitu kekuatan hidup.
Kata “Indramayu” mengandung kata pengertian, “Ini memiliki kata “inti, ‘Darma artinya orangtua dan kata “Ayu” artinya perempuan. Makna filosofis yaitu bahwa ibu merupakan sumber hidup karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan.
Jadi apabila digabungkan Suku Dayak Hindhu-Budha Bumi Segandu Indramayu mempunyai arti kaki melangkah berdasarkan kepercayaan yang sudah dibawa sejak dalam kandungan untuk berbakti kepada alam, orangtua, dan wanita.

Dalam hal berbusana, Suku Dayak Segandu memakai pakaian yang cenderung berwarna hitam dan hitam putih. Kaum laki-laki hanya memakai celana seperempat dan bertelanjang dada, memakai pernak-pernik seperti kalung dan gelang, serta rambutnya dibiarkan panjang. Sedangkan bagi kaum perempuan menggunakan pakaian tertutup berwarna putih dan juga aksesoris sebagiamana seperti aksesoris yang digunakan laki-laki.

Ajaran yang dianut oleh komunitas ini disebut ajaran Alam Ngaji Rasa yang tidak bertumpu pada kitab suci, aliran kepercayaan, agama, kultur budaya suatu daerah. Melainkan pada suatu konsep watak pewayangan Semar dan Pandawa lima yang sangat bertanggung jawab atas suatu kepercayaan yang diberikan kepada mereka. Jadi akar ajarannya tidak terlepas dari latar belakang ajaran jawa kuno (kejawen) dan ajaran-ajaran spiritual pendirinya.

Ritual Topo Pepe
Dari segi strata sosial komunitas ini terbagi menjadi tiga; Pertama Dayak Preman, mereka mengenakan pakaian seperti masyarakat umum tidak ada perbedaan dari penampilan mereka. Golongan ini disebut juga bagian dari mereka yang masih awam. Menjalani sambil mempelajari ajaran dari kepercayaan komunitas tersebut, belum menjalani sebagian besar dari ritual yang ada pada ajara ini. Mereka berasal dari para pemabuk, peramok, pencuri dan tindakana yang dianggap preman. Kedua Dayak Seragam, bagi mereka yang memakai pakaian hitam-hitam dan celana seperempat. Golongan ini sedang menjalani proses pendalaman terhadap kepercayaan, dengan melakukan ritual-ritual yang ada dan tidak memakan zat yang bernyawa seperti ikan, telur dan daging. Target yang harus dicapai pada golongan ini adalah mereka dapat mengaplikasikan ajaran tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang yang ada disekitar mereka. Ketiga Dayak Blegir, merupakan golongan yang telah sepenuhnya menjalankan ajaran yang ada. Pakaian ynag digunakan adalah celana hitam seperempat dan telanjang dada bagi laki-laki serta menggunakan asesoris gelang tangan, kaki dan juga kalung. Bagi perempuan menggunakan pakaian tertutup berwarna putih dan juga aksesoris sebagiamana seperti aksesoris yang digunakan laki-laki.

Ritual ritual yang dilakukan oleh komunitas ini ada beberapa diantarnya yaitu ritual Kidung Alas Turi, ritual Agung Sejarah Alam Ngaji Rasa, ritual Kungkum dan ritual Pepe. Rirual Kidung Alas Turi adalah sebuah ritual yang dilakukan secara bersam-sama dengan mengalunkan pujian-pujian tentang ajaran mereka. Pujian tersebut menyatakan permohonan kepada yang mereka percayai agar mengubah diri mereka menjadi lebih baik dan juga pernyataan bahwa mereka adalah makhluk sosial yang membutunkan dengan yang lainnya.

Setelah melakukan ritual ini, ritual yang dilakukan selanjutnya adalah ritual Alam Ngaji Rasa yang mempunyai makna, Sejarah merupakan perjalanan hidup berdasarkan ucapan dan kenyataan, Alam bagi mereka merupakan ruang lingku kehidupan, Ngaji Rasa adalah pola kehidupan yang perlu dipahami atau dikaji dengan memahami kajian benar atau salah. Maka ritual Alam Ngaji Rasa mempunyai prinsip“ jangan dulu mempelajari orang lain tapi pelajarilah diri sendiri anatara salah dan benar”.

Ritual Sejarah Ajian Ngaji Rasa dilakukan setiap malam Jum’at Kliwon secara bersama-sama. Ritual ini, dilakukan di padepokan Nyi Ratu Kembar yang bertujuan untuk mengetahui salah dan benarnya diri mereka melalui Ngaji Rasa. Benar yang diketahui secara umum belum berarti benarnya dan begitu pula salahnya mereka belum berarti salah. Karena mereka beranggapan kesalahan dan kebenaran hanya dapat diketahui melalui ngaji Rasa.

Ritual selanjutnya adalah kungkum yang dilakukan setelah ngaji Rasa. Dilakukan secara individu dengan tujuan untuk mendapatkan suatu kemurnian diri bagi yang melaksanakannya. Pelaksanaan dengan cara berendam didalam parit mulai dari pukul 24.00 samapai pukul 06.00 pagi. Setelah melakukan ritual ini, untuk melatih kesabaran dalam mengarungi kehidupan, mereka berlatih dengan ritual pepe mulai dari pukul 11.00 sampai 14.00 dengan syarat harus terkena matahari secara langsung.

Selain dengan menjalankan ritual pada kepercayaan, mereka juga harus menamankan nilai-nilai dari ajaran mereka. Nilai-nilai yang mereka tanamkan berupa nilai moral terhadap sesama dan juga alam sekitar. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai toleransi terhadap sesama dan bagi mereka yang sudah berkeluarga sangat menjunjung tanggung jawab terhadap keluarganya. Selain itu mereka juga sangat menjaga terhadap kelestarian lingkungan sekitar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar