Kamis, 15 Oktober 2015

Suku Nias

Suku Nias adalah sebutan untuk orang-orang yang mendiami pulau Nias, pulau Nias berada disebelah barat pulau Sumatra. Pulau Nias yang berpenduduk sekitar 700.000 jiwa ini dibagi menjadi 5 wilayah pemerintahan yaitu kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten Nias Utara.


Asal-usul orang Nias sampai sekarang belum ditemukan secara pasti, ada banyak teori yang mengatakan bahwa nenek moyang suku nias berasal dari orang Cina Selatan, Vietnam,Taiwan dan Filipina yang bermigrasi dari daratan Asia ke kepulauan Nusantara.


Adat adat di Nias rata-rata masih mengikuti budaya nenek moyang yang dari kebudayaan megalitikum, serta banyak benda megalitikum yang ditemukan pulau Nias seperti patung-patung para leluhur, rumah adat (omo hada), pemakaman, kursi kepala adat dll.

Lompat Batu (Fahombo)
Upacara-upacara yang ada di Pulau Nias antara lain adalah Lompat Batu, ritual ini dalam bahasa Nias disebut fahombo yaitu ritual untuk pendewasaan pemuda-pemuda Nias dan dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih prajurit muda untuk tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang di malam hari.. Batu yang harus dilompati dalam fahombo berbentuk seperti sebuah monumen piramida dengan permukaan atas datar. Tingginya tidak kurang dari 2 meter, dengan lebar 90 cm, dan panjang 60 cm. Pelompat tidak hanya harus melompati tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki teknik untuk mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah, dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. Pada masa lampau, di atas papan batu bahkan ditutupi dengan paku dan bambu runcing, yang menunjukkan betapa seriusnya ritual ini di mata Suku Nias.

Dalam budaya Ono Niha (Nias) terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar