Tampilkan postingan dengan label sedulur sikep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedulur sikep. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2015

Komunitas Samin

Kelompok Samin atau sering disebut sedulur sikep adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko, ia mengajarkan bagaimana dia harus bersikap terhadap penjajahan belanda pada waktu itu. Bentuk yang dilakukan dalam rangka melawan penjajahan adalah dengan cara menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya. Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun '70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka.

Samin Surosentiko
Kelompok Sedulur Sikep Tersebar pertama kali di daerah Klopoduwur, Blora, Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin berkembang di dua desa hutan kawasan Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Gerakan ini lantas dengan cepat menjalar ke desa-desa lainnya. Mulai dari pantai utara Jawa sampai ke seputar hutan di Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan, atau di sekitar perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur menurut peta sekarang.

Menurut orang Samin Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya yaitu dengan tidak merugikan orang laindan bersikap rendah hati. Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.